This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Indra pembau

Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap.

Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan aksonakson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Di akhir setiap sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara.

clip_image002

Penciuman wanita lebih baik dari pada pria, karena pada wanita ruang dalam (concha nasal superior) menerima gas lebih luas. Semakin tajam wewangian lebih mudah dikenalinya.

Manusia dapat membedakan berbagai macam bau, bukan karena memiliki banyak reseptor pembau namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi (component principle).

Organ pembau hanya memiliki 7 reseptor, namun dapat membaui lebih dari 600 aroma.

System Olfaction dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptornya disebut Chemoreseptor. System olfaction terdapat di hidung bagian atas (concha nasal superior) yang peka terhadap penciuman dan lebih dekat dengan syaraf olfactorius.

Daftar Pustaka :

Sacharin, R.M. (1986) Principles of Paediatric Nursing. London:Churchill Livingstone

1 komentar

Diplopia (benda rangkap)

Anatomi indera penglihatan dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang dilihat oleh kedua mata diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara serentak lalu dikirim ke susunan saraf pusat untuk diolah menjadi sensasi penglihatan tunggal.

Penglihatan tunggal terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan daya koordinasi untuk menjadikan kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi). Fusi akan hilang bila daya penglihatan salah satu mata kurang/tidak ada. Untuk menggerakkan bola mata digunakan enam macam otot mata. Bila semua otot itu tak bekerja normal, kedua mata akan berfungsi secara seimbang. Normal-tidaknya otot mata tergantung pada tebal-tipis, panjang-pendek, dan berfungsi-tidaknya saraf-saraf mata.

sel kerucut adalah daerah khusus retina yang dikenal sebagai fovea yang tidak ada sel batangnya. Fovea adalah bagian retina yang kita gunakan untuk melihat objek yang ingin dilihat secara jelas visusnya paling besar pada fovea.

Penglihatan ganda yang terjadi ketika mata tidak dapat memfokuskan, dikarenakan lemahnya satu/lebih otot luar mata yang mengontrol pergerakan mata. Hal ini lebih sering muncul ketika melihat keatas atau kesamping . Untuk menghilangkan kelemahan ini pasien akan memiringkan wajahnya kearah otot mata yang lebih baik. Contohnya : jika otot mata melihat keatas lemah , pasien akan mendongak /menarik posisi kepalanya kebelakang sehingga objek diatas kepala dapat terlihat.

 

 

Daftar Pustaka :

http://mahendraindonesia.com/images/up/Myasthenia%20Gravis%20-%20ok.doc.

Riyanti Dwi B.P,Hendro Prabowo dan Ira Puspitawati.1996. Psikologi Umum I (seri diktat kuliah). Jakarta : Universitas Gunadarma.

0 komentar

Buta warna dengan uji stilling-isihara & stilling-isihara I

Screen Snaper Image

Buta warna

System penglihatan normal terdiri dari tiga subsistem, yaitu pembeda terang-gelap, kuning-biru, merah-hijau.semua kombinasi dianggap berasal dari ketiga warna tersebut. Buta warna adalah akibat dari kekurangan atau cacat pada satu atau dua subsistem diatas. System terang-gelap tetap berfungsi, kecuali jika individu tidak dapat melihat sama sekali. Individu dengan penglihatan normal disebut dengan trichromat. Individu dengan cacat satu system tetapi dapat menggunakan system yang lain disebut dichromat atau buta warna sebagian (buta warna terhadap kuning-biru dan merah-hijau).sedangkan individu yang hanya memiliki satu system terang-gelap disebut monochromat atau buta warna total (hanya memiliki system terang-gelap).

Nilai afektif warna

Warna juga bisa menimbulkan penilai atau perasaan tertentu. Warna yang kita amati bisa menimbulkan berbagai perasaan sehingga interpretasi kita terhadap warna bisa sangat berlainan. Warna putih misalnya, sering diartikan sebagai bersih, suci, menyerah (kalah),dan sebagainya. Warna merah bisa berarti berani, kebahagiaan, keberanian, amarah, dan sebagainnya.

Orang mengira penderita buta warna hanya melihat warna abu-abu,seperti melihat televisi hitam-putih. Buta warna adalah ketidakmampuan mata mengenali warna tertentu dan biasanya disebabkan oleh keturunan. Sekitar 90% penderita buta warna sulit membedakan warna merah atau hijau.

Kartu distorsi merupakan kartu pengacau yang berfungsi menengangkan mata atau mengistirahatkan mata. Kartu distorsi tidak mempunyai angka didalamnya atau pun pola.

Pada mata normal dapat membaca kartu stilling isihara selama 3-10 detik, jika mata yang bermasalah lebih dari 10 detik.

 

 

Daftar Pustaka :

http://beemag.formasi/butawarna

Riyanti Dwi B.P,Hendro Prabowo dan Ira Puspitawati.1996. Psikologi Umum I (seri diktat kuliah). Jakarta : Universitas Gunadarma.

0 komentar

Gerak Refleks

Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.

clip_image002

Gbr. Lengkung refleks yang menggambarkan mekanisme
jalannya impuls pada lutut yang dipukul

Lutut dapat bergerak dengan sendirinya, karena ada gerak reflex. Efek yang terasa hanya seperti setruman kecil.

Gerak reflex merupakan respon otomatis dengan sebagian tubuh terhadap suatu stimulus. Reflex sentakan lutut merupakan reflex rentangan.

Skema reflex :

Stimulus syaraf >sensorik > tali spinal > Interneuron > syaraf motorik > aksi (gerakan kaki).

Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks.

Daftar Pustaka :

Anonim. 2008. Gerak Refleks.http://bebas.vlsm.org/

0 komentar

Indera peraba

Indera peraba adalah kulit. Kulit terdiri atas bagian luar (epidermis) dan bagian dalam (dermis). Epidermis tersusun atas lapisan yaitu: stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum dan stratu germinativum.
Di bawah epidermis terdapat lapisan dermis. Di lapisan dermis inilah dijumpai ujung saraf yang berfungsi untuk mendeteksi rangsang yang datang yaitu :

a. Badan Meisner untuk meraba dan sentuhan.

b. Badan vater Pacini untuk tekanan.

c. Badan Krause untuk dingin.

d. Badan Rufini untuk panas.

e. Ujung Syaraf Bebas untuk mendeteksi nyeri dan geli.

Mekanisme Kerja Alat Peraba

Misalnya sensasi tekan :

bila ada tekanan terhadap kulit, maka reseptor Vater Pacini berubah bentuk karena tekanan tersebut. Tekanan merupakan rangsangan adekwat yang dapat diterima Vater Pacini. Tekanan yang diterima oleh Vater Pacini menyebabkan terjadinya depolarisasi yaitu Na+ masuk dan K+ keluar. Depolarisasi berlanjut menyebabkan terbentuknya potensial aksi yang dihantarkan berbentuk impuls oleh saraf sensork ke otak. Di impuls diolah, menimbul sensasi tekan di kulit.

Ciri sensasi :

1. Modalitas / modal yaitu alat indera

2. Kualitas / mutu yaitu mata mampu membedakan merah dan biru, telinga mampu membedakan suara bass dan sopran, hidung mampu membedakan bau dan wangi.

3. Adaptasitas yaitu perempuan yang belum terbiasa menggunakan anting pada awalnya akan terasa mengganjal, namun setelah beberapa waktu sudah tidak terasa mengganjal.

4. Intensitas / kekuatan yaitu membedakan warna merah muda dan merah tua, bisa terjadi karena sel kerucut yang diterima lebih besar pada warna merah muda dari pada merah tua.

5. Durasi / lama itu tergantung, sangat berhubungan dengan adaptasi. Contohnya, wanita yang menggunakan perhiasan berat pada awalnya akan terasa berat tapi karena sudah menggunakanya dalam waktu yang cukup lama maka sudah terbiasa.

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

Sacharin, R.M. (1986) Principles of Paediatric Nursing. London:Churchill Livingstone.

 

0 komentar

Terjadinya Gerak Biasa

Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf.

Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.

Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.

Neuron atau saraf ialah sel otak, satuan terkecil pembangun organ otak. Otak terbentuk dari sekitar 100 triliun sel saraf. Organ lain seperti jantung, ginjal, terdiri pula dari sel-sel pembentuk, akan tetapi sel saraf berbeda dengan sel lainnya dalam hal :

1. Sel saraf memiliki bentuk spesifik yang dinamakan dendrit dan akson. Dendrit memberikan informasi ke badan sel dan akson menerima informasi dari badan sel.

2. Sel saraf berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui proses elektrokimia.

3. Sel saraf yang saling berkomunikasi akan membentuk sinaps dan menghasilkan kimia otak yang dinamakan neurotransmitter yang akan dilepaskan oleh sinaps.

Diperkirakan sekitar 10 pangkat 15(10.000.000.000.000.000) sinaps terbentuk di dalam otak manusia sehari-harinya.

(statistic dari Changeux JP and Ricoeur Princeton University Press 2000 p.78)

 

Daftar Pustaka :

Anonim. 2008. Apa yang dimaksud dengan neuron/saraf. http://tanah231.multiply.com

Anonim. 2008. Terjadinya Gerak Biasa . http://bebas.vlsm.org/

0 komentar

Kepadatan (Density)

Kepadatan penduduk adalah jumlah rata-rata penduduk yang mendiami suatu wilayah administrative atau politis tertentu, biasanya dinyatakan dalam jiwa/Km2. Menurut Sundtrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrghtsman & Deaux,1981), atau sejumlah individu yang berada disuatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

Kepadatan memperlihatkan banyak hal yang negative. Seperti ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darh, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu. Kepadatan juga menyebabkan agresifitas pada anak-anak dan dewasa atau menjadi sangat menurun bila kepadatan tinggi sekali. Jika kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesame anggota kelompok. Selain itu kepadatan juga mengakibatkan penurunan ketekunan pada pekerja yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Berdasarkan penelitian Bell (dalam Setiadi, 1991) dampak negative dari kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negative pada kepadatan tinggi bila dibandingkan wanita. Pria bereaksi lebih agresif terhadap anggota kelompok, terhadap kepadatan rendah maupun tinggi. Wanita lebih menyukai anggota kepadatan yang tinggi.

Kategori kepadatan

menurut Altman (1975) kepadatan berhubungan dengan tingkah laku social. Variasi indicator kepadatan itu meliputi:

∆ Jumlah individu dalam sebuah kota,

∆ Jumlah individu pada daerah sensus,

∆ Jumlah individu pada unit tempat tinggal,

∆ Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal,

∆ Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar.

Holahan (1982) menggolongkan kepadatan kedalam dua kategori, yaitu:

• kepadatan spasial (spatial density) yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang

• kepadatan social (social density) yang terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.

Altman (1975) membagi kepadatan menjadi :

• Kepadatan dalam (inside density) yaitu jumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan didalam rumah,kamar;

• Kepadatan luar (outside desity) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap stuktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang tinggi atau kepadatan rendah.

Zlutnick dan Altman (dalam Altman,1975; Holahan,1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman,yaitu ;

• Lingkungan pinggiran kota, ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah

• Wilayah desa miskin dimana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah

• Lingkungan mewah perkotaan, kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luarnya tinggi

• Perkampungan kota yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam tinggi.

Altman (1975) membagi kepadatan menjadi :

· Kepadatan dalam (inside density) yaitu jumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan didalam rumah,kamar;

· Kepadatan luar (outside desity) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap stuktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang tinggi atau kepadatan rendah.

Zlutnick dan Altman (dalam Altman,1975; Holahan,1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman,yaitu ;

Ω Lingkungan pinggiran kota, ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah

Ω Wilayah desa miskin dimana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah

Ω Lingkungan mewah perkotaan, kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luarnya tinggi

Ω Perkampungan kota yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam tinggi.

clip_image002

Taylor (dalam Gifford,1982) mengatakan bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap perilaku dan keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal. Maka individu yang bermukim dipemukiman dengan kepadatan berbeda mungkin akan menunjukan sikap dan perilaku yang beebeda pula.

Akibat kepadatan tinggi

Taylor (dalam Guilfford,1982) lingkungan sekitar merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal individu disuatu tempat tinggal, serta rumah dan lingkungan pemukiman yang nyaman yang member kepuasan pada psikis individu yang tinggal ditempat tersebut.

Ashorr (dalam Ittelson) mempercayai bahwa macam dan kualitas pemukiman dapat memberikan pengaruh penting terhadap persepsi diri penghuninya, stress dan kesehatan fisik, sehingga kondisi pemukiman ini tampaknya berpengaruh pada perilaku dan sikap-sikap orang yang tinggal disana .

Penelitian Valins dan Baum (dalam Heimstra dan Mc Farling,1978), menunjukan adanya hubungan yang erat antara kepadatan dengan interaksi social. Para mahasiswa yang bertempat tinggal di asrama yang padat cenderung menghindari kontak social dengan orang lain.

Penelitian Karlin dkk (Sears,1994) membandingkan mahasiswa yang tinggal berdua dalam satu kamar dengan mahasiswa yang tinggal bertiga dalam satu kamar (kamar dirancang untuk dua orang). Ternyata mahasiswa yang tinggal bertiga melaporakan adanya kekecewaan, stress dan prestasi belajarnya menurun yang lebih besar dari pada mahasiswa yang tinggal berdua.

Rumah dengan luas lantai yang sempit dan terbatas bila dihuni dengan jumlah individu yang besar individu umumnya akan menimbulkan pengaruh negative pada penghuninya (Jain,1987). Hal ini terjadi karena dalam rumah tinggal yang terbatas umumnya individu tidak memiliki ruang atau tempat yang dapat dipakai untuk kegiatan pribadi. Keterbatasan ruang memungkinkan individu menjadi terhambat untuk memperoleh masukan yang berlebihan. Keadaan tersebut padea akhirnya menimbulkan perasaan sesak pada individu penghuni rumah tinggal tersebut.

clip_image004

Kepadatan tinggi merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan kesesakan bagi individu yang berada didalamnya (Holahan,1982). Stressor lingkungan yang dapat menyebabkan stress, penyakit atau akibat-akibat negative pada perilaku masyarakat. Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung,tekanan darh dan penyakit fisik lain (Heimstra dan McFarling,1978). Akibat secara social yaitu meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling,1978; Gifford,1987).

Akibat psikis lain antara lain:

∆ Stress, kepadatan tinggi menumbuhkan perasaan negative, rasa cemas, stress (Jain,1987) dan perubahan suasana hati (Holahan,1982).

∆ Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung menarik diri dan kurang ma berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling,1978; Holahan,1982; Gifford,1987).

∆ Perilaku menolong, kepadatan tinggi menurunkan keinginan individu untuk menolong atau member bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan,1982; Fisher dkk., 19840.

∆ Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugas pada saat tertentu (Holahan,1982)

∆ Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustrasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling,1978; Holahan,1982)

clip_image006

Menurut Jain (1987) banyaknya unit rumah tinggal dikawasan pemukiman menyebabkan timbulnya pemukiman padat yang umumnya menyebabkan perbandingan antara luas lantai yang didiami tidak sebanding dengan banyaknya penghuni. Jarak antara rumah tinggal dengan rumah tinggal lain yang berdekatan bahkan hanya dipisahkan oleh dinding rumah atau sekat dan tidak jarang mengakibatkan penghuni dapat mendengar dan mengetahui kegiatan yang dilakukan penghuni rumah tinggal lain. Keadaan inilah yang dapat menyebabkan individu merasa sesak.

clip_image008

Dapat kita lihat pada kepadatan dikota Depok, Adanya tekanan yang sangat berat terhadap kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini, akibat pertumbuhan penduduk, yang mana pada tahun 2011 kepadatan penduduk Kota Depok akan mencapai 7.887 orang per kilometer persegi, sedangkan pada tahun 2005 tingkat kepadatan penduduknya baru 6.696 orang per kilometer persegi. Hal ini berarti terjadi peningkatan jumlah penduduk Kota Depok dari tahun 2005 sebanyak 1.374.000 orang menjadi 1.667.000 orang pada tahun 2011.

Jumlah Penduduk, Luas Wilayah Dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan, 2008

Kecamatan

Jumlah

Penduduk

Luas

Wilayah (Km2)

Kepadatan

Penduduk (jiwa/Km2)

010

Sawangan

169,727

45.69

3,714.75

020

Pancoran Mas

275,103

29.83

9,222.36

030

Sukmajaya

350,331

34.13

10,264.61

040

Cimanggi

412,388

53.54

7,702.43

050

Beji

143,190

14.30

10,013.29

060

Limo

152,190

22.80

6,707.81

Kota Depok

1,503,677

200,29

7,507.50

Catatan: Berdasarkan Sensus Penduduk 2000

SUMBER: Proyeksi Penduduk BPS Kota Depok

clip_image010

Berikut adalah keadaan pemukiman penduduk di kecamatan Pancoran Mas, tempat ini dikenal dengan kampung Belimbing sawah. Daerah ini dapat dikatakan padat karena rumah-rumah yang berada ditempat ini sangat berdekatan satu sama lainnya. Disetiap gang, terdapat rumah-rumah yang berdekatan dan didominasi dengan rumah kontrakan yang biasanya di tempati oleh pendatang yang berprofesi sebagai pedagang kecil sampai buruh cuci.

clip_image012

clip_image014

clip_image016

clip_image018

clip_image020

clip_image022

Kesesakan (Crowding)

Menurut Altman kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil. Pengertian crowding dengan kepadatan memiliki hubungan erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan keseskan pada individu (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan,1982).

Baum dan Paulus (1987) menerangkan proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat factor:

§ Karakteristik setting fisik

§ Karakteristik setting social

§ Karakteristik personal

§ Kemampuan beradaptasi

clip_image024

Menurut Morris kesesakan sebagai deficit suatu ruangan, maka dengan adanya sejumlah orang dalam suatu hunian rumah, ukuran per meter persegi setiap orangnya menjadi kecil, sehingga dirasakan adanya kekurangan ruang. Dalam suatu hunian, kepadatan ruang harus diperhitungkan dengan mebel dan peralatan yang diperlukan untuk suatu aktivitas.

clip_image026

Bersar kecilnya rumah menentukan besarnya ratio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia. Makin besar rumah dan makin sedikit penghuninya, maka akan semakin besar ratio tersebut. Sebaliknya makin kecil rumah dan makin banyak penghuninya, maka akan semakin kecil ratio tersebut, sehingga akan timbul perasaan sesak (Ancok,1989).

Stokols (dalam Altman,1975) membedakan antara :

a. Kesesakan bukan social (nonsocial crowding) yaitu dimana factor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit,

b. Kesesakan social (social crowding) yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak.

c. Kesesakan molar (molar crowding) perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota

d. Kesesakan molekuler (molekuler crowding) yaitu perasaan sesak yang menganalis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.

clip_image028 clip_image030

Rapoport (dalam Stokols dan Altman,1987) mengatakan kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruang yang tersedia. Batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.

Teori kesesakan

 Teori beban stimulus

Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses sistim atau info dari lingkungan.

Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek-aspek interaksinya, maupun kondisi-kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan social.

Berlebihnya informasi dapat terjadi karena beberapa factor :

a. Kondisi kungkungan fisik yang tidak menyenangkan

b.Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat

c. Suatu percakapan untuk tidak dikehendaki

d. Terlalu banyak mitra interaksi

e. Interaksi yang terlalu dirasa terlalu dalam atau terlalu lama.

clip_image032

Teori Ekologi

Micklin (dalam Holahan,1982) mengemukakan sifat-sifat umum model ekologi pada manusia :

• Teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbale balik antara orang dengan lingkungannya

• Unti analisisnya adalah kelompok social dan bukan individu, dan organisasi social memegang peranan sangat penting.

• Menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan social.

clip_image034 clip_image036


Teori kendala perilaku

Suatu situasi akan dianggap sesak bila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengan membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat. Pendekatan ini didasari oleh teori reaktansi psikologis (psychological reactace) dari Brehm (dalam Schmidt dan Keating, 1979) yang menekankan kebebasan memilih sebagai factor pendorong penting dalam persepsi dan perilaku manusia.

clip_image038 clip_image040

Menurut Proshansky, dkk (1976) pengaruh psikologis dari kesesakan yang utama adalah kebebasan memilih individu dalam situasi sesak. Kesesakan terjadi bila kehadiran orang lain dalam suatu seting membatasi kebebasan individu dalam mencapai tujuannya.

Menurut Ancok, perasaan sesak di dalam rumah, dapat menimbulkan masalah :

• Menurunnya frekuensi hubungan sex

• Memburuknya interaksi suami istri

• Memburuknya cara pengasuhan anak

• Memburuknya hubngan dengan orang-orang diluar rumah

• Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa.

Asumsi konsekuensi negative dari kesesakan :

• Model beban stimulus

• Model kendala perilaku

• Model ekologi

• Model atribusi

• Model arousal

Menurut Brigham, akibat negative dari kesesakan pada perilaku manusia yaitu :

• Pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekankan perasaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain.

• Keterbatasan perilaku, pelanggaran privasi dan terganggu kebebasan memilih

• Control pribadi yang kurang

• Stimulus yang berlebih.

Daftar Pustaka

Anonim. 2009. http://www.depok.go.id/v3/index.php?option=com_content&task=view&id=309

0 komentar